NASIB SANGKIL DAN MANGKUS

Nasib Sangkil, Mangkus dalam Kosa Kata Bahasa Indonesia

 

Ditulis Moh. Rokhim, mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Univeristas Islam Malang, Guru di SMPN 3 Silo

 

Tulisan ini saya mulai dari keluhan seorang  wartawan yang tidak mengerti dengan makna sangkil dan mangkus.  Wartawan tersebut menuliskan keluhanya dalam http://greeny-me.blog.friendster.com.

Kira-kira demikian isinya. “Waktu tes tertulis di kantorku sekarang ini, kata ‘’sangkil” dan ”mangkus” menjadi bahan pertanyaan. Aku sendiri (jujur) waktu itu terbengong-bengong. Sebagai penyuka bahasa, sepertinya masih saja bodoh soal bahasa. Lebih malu lagi waktu sampai di rumah aku bertanya kepada kakakku. Ternyata dia lebih tahu arti dari ‘’sangkil” dan ”mangkus”. Katanya: ”Itu kan udah lama, Ma dijadiin pengganti kata dan itu lebih Indonesia daripada efektif dan efisien.”

Tidak hanya keluhan wartawan tadi,  Budiman Hakim dalam http://bikaambon.multiply.com/journal/item/100/Ribetnya_Bahasa_Indonesia juga mengeluhkan hal yang sama.

Mungkin tulisan ini tidak begitu penting. Sebab penulis sendiri bukanlah orang bahasa Indonesia yang asli. Anggaplah tulisan ini sebagai kegalauan, atau kurang dari itu, sekedar omong kosong yang tidak ada ujungnya. Banyak masyarakat kita juga sudah bicara tentang hal ini.Barangkali saya tidak menambah wawasan baru atau ilmu pengetahuan baru.

Pokok persoalannya mudah, yaitu soal bicara. Barang kali saya sulit untuk berbicara atau menulis. Kadang-kadang sulit sekali menyampaikan seluruh pemikiran dengan utuh, terpadu, dan teratur menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Ini sering mengakibatkan saya bicara dengan lambat, mengulur-ulur suku kata terakhir, dan menggerak-gerakkan tangan tanpa makna.

Sebenarnya mudah saja bicara, kalau mau berceloteh dengan istilah-istilah Inggris yang sebenarnya tidak perlu.  tetapi saya ingin bicara dengan istilah-istilah Indonesia atau yang sudah diindonesiakan. Dalam hal ini, kadang saya merasa berjalan sendiri dan terpaksa merasa konyol. Mengapa, sebab saya telah membela hal yang orang lain anggap remeh dan mungkin tidak perlu atau bahkan sesuatu yang lucu di zaman mendunia ini.

Rekan-rekan di kantor, rekan-rekan di jalan, orang-orang di pinggir jalan, orang-orang di pesawat, di televisi, di radio, di koran, di internet banyak tidak peduli dengan hal ini. Padahal menurut saya ini penting

Orang Indonesia memang suka dengan  hal-hal yang berbau Barat. Dalam artikelnya di media internet,  Kurniawan Adi Saputo mengutip pendapat Ariel Heryanto mengiaskan pengguna bahasa Indonesia sebagai seseorang yang basah kuyup dan masuk ke rumah. Ada tiga unsur di sini: orang, air, dan rumah. Orang melambangkan kita penutur bahasa Indonesia, air melambangkan bahasa asing Inggris yang jatuh dengan deras dari luar, dan rumah adalah kebersamaan kita. Dengan kata lain, penutur bahasa Indonesia kena air tanpa perlindungan yang, atau melindungi diri secara, mangkus sehingga menghasilkan basah kuyup. Tentu di luar sana hujan tetap turun, bahkan bisa jadi makin deras. Tapi bukan berarti kita harus selalu mandi hujan dan basah kuyup setiap hari. Sudah begitu, keadaan basah kuyup itu kita bawa masuk ke dalam rumah. Inilah yang kita lakukan dengan bahasa Inggris dan Indonesia. Kita berbahasa Engdonesia di mana saja (di koran, di pesan pendek, di percakapan antarpribadi, di surat elektronik) dan kapan saja baik resmi maupun tidak.

 Maka tidak heran ada keluhan sebagaimaa yang telah saya uraikan di bagian awal tulisan ini. Orang lebh suka memakai kata efektif dan efesien dibandingkan dengan mangkus dan sangkil. Padahal konon dua kata tersebut  berasal dari bahasa daerah yang ada di Nusantara. Entah bahasa dareah mana, sampai tulisan ini saya tulis, saya belum menemukan sumber rujukannya.

Jika kita mengikuti kaidah pengembangan kosa kata sebagaimana ditetapkan oleh Kongres Bahasa Indonesia II  maka kita dapatkan informasi sebagai berikut.

Kongres Bahasa Indonesia II (Medan, 28 Oktober─2 November 1954)  memberi batasan yang lebih tegas tentang pengambilan kosa kata, yaitu bahwa

1.   Kata asing diambil untuk memperlengkap kata-kata yang diperlukan di dalam dunia ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

2.  Istilah-istilah yang telah biasa dipakai diakui.

3. Istilah itu disaring dari apa yang telah sebarluaskan Komisi Istilah dengan  memperhatikan makna utuh, bukan menerjemahan kata demi kata.

4. Istilah internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (ketika itu disebut istilah dalam lapangan ilmiah), serta istilah kebudayaan dan kebudayaan diterima dengan penyesuaian lafal.

5. Pengambilan kata-kata dari bahasa daerah dan bahasa serumpun diutamakan.

Selanjutnya, Kongres Bahasa Indonesia II ini juga telah memberikan arah hubungan timbal balik positif antara pengembangan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Pengembangan bahasa Indonesia tidak boleh menghambat perkembangan bahasa-bahasa daerah dan sebaliknya pengembangan bahasa-bahasa daerah tidak boleh pula menolak bahasa Indonesia. Selama ini, bahasa Indonesia dan bahasa daerah dianggap berada pada dua kutup yang tidak bisa dipertemukan. Kewaspadaan para pakar di dalam Kongres Bahasa Indonesia II ini telah mencoba memberi batasan agak kedua kutub itu bisa dipertemukan dengan pola hubungan yang harmonis.

Jika kita pemakai bahasa Indonesia konsisten terhadap apa yang kita tetapkan tentunya dalam hal pemilihan kata tersebut kita akan memilih mangkus dan sangkil  dibandingkan dengan kata efektif dan efesien.

Saya sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Andre Moeler bahwa  kecenderungan penutur bahasa Indonesia  senang sekali menyelipkan kosakata Inggris dalam tuturannya dibandingkan dengan menggunakan kosa kata bahasa Indonesia yang sebenarnya sepadan maknanya.

Dalam hal ini mari kita lihat  contoh-contoh sebagai berikut.
Contoh di bawah ini saya cuplik dari suatu halaman blog yang berisi cara-cara belajar merancang grafis.

“Bila anda pernah bekerja di agency graphic house atau advertising pasti sering mendengar dua kata ini “tone and manner”. Karena biasanya di dalam salah satu item Job brief terdapat kalimat “tone and manner.”

            Contoh lain “Di beberapa negara Asia dan Afrika, cacing tanah dijadikan  healing foods.” Padahal kata healing foods  ada padanannya dalam bahasa Indonesia yaitu makanan obat.

Contoh ketiga “Di sekolah ada banyak guru yang bisa bicara panjang lebar tentang outline”. Outline dalam bahasa Indonesia adalah kerangka tulisan.  Masih lebih banyak lagi contoh, selain contoh yang saya sajikan.

            Orang mengira bahwa bahasa Indonesia tidak kaya kosa kata. Saya berpendapat sebaliknya. Meski bahasa kita tidak setua bahasa Inggris, bahasa Indonesia adalah bahasa yang masih muda, jauh lebih muda dibandingkan bahasa Inggris yang berasal dari Anglo Saxon atau bahasa Perancis yang berasal dari bahasa Latin, namun bahasa Indonesia adalah bahasa yang kaya kosa kata. Sebab bahasa Indonesia didukung ribuan bahasa Nusantara.

 Bahasa Indonesia digambarkan sebagai bahasa yang agak sederhana, kurang lengkap, bahkan miskin akan kata dan cara-cara berbahasa. Setelah direnungkan lebih jauh, pendapat ini harus saya buang. Masalahnya bukan pada ketidakadaan alternatif dalam bahasa Indonesia, tetapi pada ketidaksediaan orang memakai kata-kata Indonesia. Ternyata orang Indonesia sendiri yang tidak mau menggali dalam-dalam harta karun kosa kata dalam bahasa Indonesia itu.

Mungkin saja dalam benak pikiran banyak penutur bahasa Indonesia, bahasa Inggris lebih keren,bahasa Inggris lebih mendunia,  dengan berbahasa Inggris  akan dianggap orang lebih pandai dan mungkin masih banyak lagi yang dipikirkan orang tentang menggukan bahasa Inggris. Saya tidak  menentang anggapan bahwa  kita perlu maju dan menggunakan bahasa Inggris. Tetapi jika kita menggunakan bahasa Indonesia seyogyanya kita  menggunakan bahasa Indonesia yang Indonesia.  Maksudnya jika saja ada  kosa kata bahasa Indonesia jangan pilih kosa kata bahasa Inggris. Sebab bahasa menunjukkan bangsa.

Kembali pada persoalan kata mangkus dan sangkil  dibandingkan dengan kata efektif dan efesien. Meski  pada kenyataanya sekarang kata efektif dan efesien lebih  dikenal masyarakat dibandingkan dengan  kata mangkus dan sangkil, jangan seperti bos wartawan sebagaimana sudah saya sajikan di awal tulisan ini,  bos wartawan tersebut  langsung mencoret  kata sangkil dan mangkus dalam judul tulisan wartawan itu. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak memiliki niat baik untuk menyosialisasikan bahasa kita sendiri. Menurut saya jika saja semua media masa mau memakai kata sangkil dan mangkus di berbagai media secara terus menerus saya percaya lambat laun kata itupun akan memasyarakat dalam penutur bahasa Indonesia, atau bahkan  mendunia.

Sekarang tinggal kita penutur  bahasa Indonesia, kita akan membumihanguskan kata-kata yang bersumber dari budaya kita sendiri atau kita ingin di anggap hebat dengan menggunakan bahasa Inggris, akan menetukan nasib kata sangkiL dan mangkus. Semua terserah kita.

 

 

 

Comments

  1. No Komen : 1
    jojo05-08-2012 10:14:45

    Menurut saya penggunaan efektif dan efisien bukan karena gengsi. Masalahnya adalah kedua kata tersebut lebih sering digunakan dan lebih tepat makna (karena memang makna 'efektif' dan 'efisien'lah yang ingin diungkapkan. Kenapa harus anti terhadap kata bahasa asing? Toh di bahasa kita sudah bertaburan kata dari bahasa asing. Bagi saya, sangkil mangkus justru terdengar asing, dan saya juga tidak tahu maknanya atau asal-usulnya.Di bahasa daerah saya, Jawa, tidak ada konsep 'efektif dan efisien' jadi kata-kata yang sepadan dengan itu juga tidak ada. Konon 'sangkil' berasal dari bahasa Jawa, tapi saya meragukan karena selama seumur hidup tinggal di Jawa dan berbahasa Jawa saya tidak pernah mendengar kata itu. Mungkin saja dari bahasa Jawa kuno yang sudah punah. Lalu buat apa memaksakan diri menggunakan kata yang sudah punah?
    Hal lain yang sangat memberatkan saya adalah tidak konsistennya pembuat aturan bahasa Indonesia. Di masa saya jadi pelajar era 80-90an, kata yang benar adalah 'apotek' dan 'praktek'. Kalau di ujian kita menulis dengan 'i' akan disalahkan. Entah mengapa sekarang aturan diganti dengan 'i'.
    Apa maunya orang-orang di Balai Bahasa, saya tidak mengerti, seolah-olah mereka mengubah aturan semaunya. Oleh karena itu saya bersikap tidak mau menuruti aturan-aturan EYD yang saya anggap aneh (seperti sangkil mangkus atau apotik di atas). Saya cinta bahasa Indonesia, tapi tidak cinta aturan dan kata-kata aneh.

    1. Bermutu:MohRokhim03-09-2012 18:50:20

      Terima kasih Pak Jojo komentarnya semoga bermanfaat bagi kita semua.

Beri Komentar







[Emoticon]